Senin, 25 Mei 2015

#MenulisBerantai CLOSE TO YOU (Part 4)

Lanjutan cerita dari @AgfianMuntaha di blog CLOSE TO YOU (Part 3)

Ilham

Ryan menepati janjinya untuk mengajariku teknik dasar bermain piano. Susah-susah gampang karena jemariku lebih lincah menari di atas manik sempoa. Semalaman suntuk aku mempelajari beberapa lagu romantis yang disarankan Ryan. Dan, itu membuatku tidak fokus mengikuti kelas fisika keesokan harinya.
Aku memutuskan untuk izin keluar kelas, berniat mencuci muka di toilet terdekat dengan wajah kuyu. Berharap, setelah mencuci muka di wastafel, pikiranku bisa kembali ke tempat semula dan fokus mengikuti pelajaran.
“Pamela pingsan!”  

Terdengar teriakan gaduh saat aku berniat kembali ke kelas. Mataku memicing ke sumber suara. Namun, aku tidak menemukan sosok Pamela sama sekali. Sulit sekali menemukan sosok gadis bertubuh mungil itu di antara kerumunan gadis-gadis berseragam olahraga yang mengerubungi lapangan basket.
Astaga, Pamela pingsan?
Aku bergegas menghampiri kerumunan siswa berkaos olahraga dan terpaku kepada sosok gadis berambut sebahu yang memejamkan mata—dan itu membuatnya terlihat manis.
Baiklah, bukan saatnya aku menilai bahwa Pamela itu manis. Gadis itu pingsan dan bodohnya teman-temannya mengerumuni—itu akan mengurangi pasokan oksigen untuk Pamela!
Begitu menyadari bahwa para cowok sedang berolahraga di tempat lain, aku menyela kerumunan. Aku sudah tidak peduli kalau saja guru fisika memarahiku karena aku tidak kunjung kembali ke kelas.
“Biar aku yang bawa dia ke UKS,” suaraku terdengar bergetar—panik. Terucap di antara sengalan napas yang memburu.
Para gadis mundur beberapa langkah, memberiku jalan. Aku mengamati Pamela yang sedang memejamkan mata. Ya Tuhan, wajahnya pucat sekali.
Aku segera berjongkok. Kujulurkan lengan kiriku ke bawah leher Pamela. Aku nyaris limbung, tapi rasa sukaku kepada gadis ini menguatkan pijakanku. Rasa sukaku terhadap gadis bernama Pamela ini mendatangkan keajaiban dan membuatku sampai di UKS dalam waktu cepat.
Tunggu, barusan aku bilang apa? Suka? Begitu memikirkan jawaban dari pertanyaan di benakku, jantungku mendadak terkena gempa skala besar. Degupnya kencang sekali.
Kutatap wajah Pamela yang pucat tapi tetap menggemaskan setelah kubaringkan di ranjang UKS bersprei putih. Melihatnya tak berdaya seperti ini, benar-benar membuat segala tenagaku ikut lenyap.
Pamela, bukalah matamu...

***

Pertama, aku harus memastikan Pamela berbaring dengan benar di atas ranjang UKS. Setelah itu, aku harus memanggil salah satu petugas UKS yang masih ada di ruang guru—sekarang masih terlalu pagi untuk berjaga.
Aku kembali lagi ke UKS beberapa menit kemudian setelah mengajak Pak Yulian—petugas UKS hari ini. Tubuhku mematung di ambang pintu ruang UKS. Seseorang bersama gadis itu, menemaninya dengan setia layaknya seorang bodyguard. Dia orang yang baru-baru ini akrab denganku, yang mengajariku teknik dasar bermain piano untuk menarik perhatian Pamela.
Ryan Gusti Julio!
Eh, Bro! Lo ngapain diem di situ?” Ryan memanggil begitu menyadari keberadaanku. Dia cepat-cepat bangkit dari kursi di sisi ranjang UKS. “Kata Raya, Pamela pingsan. Sekalian aja gue jengukin. Nggak tahunya, ada lo di sini.”
Ryan datang ke UKS setelah Raya memberitahunya bahwa Pamela pingsan? Kenapa Ryan bela-belain datang ke UKS? Dia pernah memberitahuku bahwa Pamela bukan tipenya. Dia juga sangat mendukungku untuk dekat dengan Pamela. Namun, melihat kejadian di hadapanku ini… apakah omongan Ryan bisa kupercayai?
Mereka dekat? Sejak kapan?

Tanpa sadar, tanganku mengerat menahan emosi yang mulai memuncak. (***)


Ditulis untuk #MenulisBerantai #TimPDKT #LoveCycle
@GagasMedia
Simak kelanjutan kisahnya




1 komentar: